Menulis
zaman now dan zaman old itu sebenarnya sama saja. Tidak ada bedanya. Coba apa
bedanya? Ya, sama-sama menulis hahaha... Mungkin yang membedakan elemen-elemen
pendukungnya.
Misalnya, dulu itu kita menulis pakai mesin tik,. Meleng sedikit
saja, bisa salah ketik dan ganti kertas. Kalau typo sedikit, harus rajin
tiup-tiup biar tip ex cepat kering. Kalau pita mesin tik habis, dan uang saku
lagi seret, maka pita mesin tiknya diolesi minyak rambut urang aring, biar hitam
kembali hahaha.
Dulu, setelah naskah diketik, harus dikirim via pos. Harus
keluar duit lagi buat beli amplop dan prangko. Belum buat ongkos transpor ke
kantor pos. Kalau cuaca panas, bisa keluar duit tambahan jajan es dan bakso.
Kalau yang domisili dekat kantor redaksi, bisa diantar langsung.
Begitu juga dengan pembayaran honorarium, lho. Zaman now begitu
dimuat, redaksi langsung mentransfer ke rekening kita. Tinggal ngecek saldo
lewat hape. Kalau sudah masuk, tinggal meluncur ke ATM. Selanjutnya kalian
pasti bisa menebak. Yess... langsung menuju warung bakso hahaha.
Walau terkesan praktis dan cepat, cara pembayaran
honorarium zaman old lebih berkesan manis dalam hati dan membawa kenangan yang
tak terlupakan bagi saya, lho. Soalnya zaman old, honorarium diambil langsung
ke kantor redaksi . Ini khusus bagi yang tinggal di Jabodetak dan memang
redaksinya ada di Jakarta.
Aduh,
ribet juga, ya? Kan jauh, blablabla dan sebagainya.
Jangan mengeluh dulu. Menurut cerita teman-teman yang pernah mengambil langsung honor ke kantor redaksi, itu justru hal yang menyenangkan, lho.
Misalnya ada teman yang cerita, saat mengambil honor dikantor redaksi, dia juga menyodorkan naskah-naskah cerita yang baru. Selain itu, bisa berkenalan dengan tim redaksi. Bisa bertanya-tanya juga soal naskah. Keuntungan lain, naskah 100 % sudah sampai di tangan redaksi. Tinggal nunggu kabar naskah saja.
Jangan mengeluh dulu. Menurut cerita teman-teman yang pernah mengambil langsung honor ke kantor redaksi, itu justru hal yang menyenangkan, lho.
Misalnya ada teman yang cerita, saat mengambil honor dikantor redaksi, dia juga menyodorkan naskah-naskah cerita yang baru. Selain itu, bisa berkenalan dengan tim redaksi. Bisa bertanya-tanya juga soal naskah. Keuntungan lain, naskah 100 % sudah sampai di tangan redaksi. Tinggal nunggu kabar naskah saja.
Lalu cerita ada juga cerita teman saya lainnya. Katanya saat
mengambil honor cerpennya ke sebuah majalah khusus cewek, dia berpapasan dengan
beberapa gadis sampul yang juga antre pengambilan honor. Wih... zaman dulu itu,
ketemu gadis sampul langsung, jadi impian para cowok-cowok hahaha. Bisa kenalan
dan foto bareng.
Lalu bagaimana honorarium yang dikirim via wesel pos?
Karena saya dulunya berdomisili di luar Jabodetabek, maka saya yang kebagian jatah dikirimin honorarium via wesel pos. Sebenarnya pengin juga sih, merasakan bisa mengambil honor langsung ke redaksi majalah. Makanya nyesal banget, telat merantau ke Jakarta. Giliran ke Jakarta, sudah banyak redaksi majalah yang tutup hahaha.
Karena saya dulunya berdomisili di luar Jabodetabek, maka saya yang kebagian jatah dikirimin honorarium via wesel pos. Sebenarnya pengin juga sih, merasakan bisa mengambil honor langsung ke redaksi majalah. Makanya nyesal banget, telat merantau ke Jakarta. Giliran ke Jakarta, sudah banyak redaksi majalah yang tutup hahaha.
Dapat wesel pos itu adalah hal yang terindah dalam hidup
saya,lho. Apalagi pas pertama kali dapat. Saat itu,Pak Pos mampir ke rumah.
Waktu itu, tumben, kok tidak menyodorkan amplop penolakan, tapi malah membuka
buku album.
Selanjutnya Pak Pos menyodorkan wesel pos yang ternyata honorarium pemuatan
tulisan di majalah remaja. Majalah remaja terbitan Jakarta, lho. Bangga dan
senangnya tak terperih, apalagi saat Pak Pos menyerahkan juga amplop cokelat
gede, yang ternyata majalah pemuatan.. halah... lebay.
Nah, tadi saya sempat rapi-rapi koleksi majalah. Eh, potongan-potongan wesel ini ada nyelip. Otomatis dong, langsung teringat semua kenangan indah zaman-zaman menerima wesel pos itu. Termasuk norak-norak abis, karena wesel itu sebelum dicairkan, dipamerin dulu ke teman-teman sekolah dan saudara handai taulan hahaha.
Nah, tadi saya sempat rapi-rapi koleksi majalah. Eh, potongan-potongan wesel ini ada nyelip. Otomatis dong, langsung teringat semua kenangan indah zaman-zaman menerima wesel pos itu. Termasuk norak-norak abis, karena wesel itu sebelum dicairkan, dipamerin dulu ke teman-teman sekolah dan saudara handai taulan hahaha.
Begitulah dunia menulis. Banyak sekali hal-hal manis yang kita
lewati dalam proses menulis itu. Jadi nikmati proses menulis itu. Dan biarkan
semuanya indah pada waktunya. Salam semangat menulis, ya....
Bambang Irwanto
0 Response to "Sepotong Kenangan Manis Menulis Zaman Old"
Post a Comment
Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.